Ditengah Badai Pandemi, Produktivitas Pemuda Tak Boleh Berhenti

Lambat
laun kehidupan berbangsa bernegara semakin pasif karena hadirnya corona saat
ini, grafik yang selalu meningkat, memunculkan ketakutan dalam diri tiap masyarakat
ketika hendak beraktifitas diluar lingkungan,
Bukan
hanya itu produktivitas dalam tiap orang semakin berkurang. seakan akan ada
sebuah dinding abstrak yang menghalau untuk bergerak dikarenakan banyaknya
batasan batasan sosial sehinga mau tidak mau mengharuskan tiap orang untuk
berdiam diri dirumah dengan dalil untuk memutuskan rantai penyebaran covid-19
Hal
tersebut memang dirasa sulit untuk dilakukan oleh tiap orang untuk berdiam
dirumah dalam waktu yang lama tanpa adanya kegiatan sosialisasi yang dilakukan,
seperti yang disampaikan oleh Aristoteles bahwa “Manusia adalah makhluk
sosial” yang secara langsung
kehidupan bersosialisasi merupakan kebutuhan priemere yang dibutuhkan oleh
manusia dalam hidupnya.
Tiap
manusia membutuhkan bantuan dari manusia lain,dikarenakan tiap manusia memiliki
kelebihan serta kekurangannya masing masing. Oleh karena itu kehidupan
bersosial merupakan penawar dalam menutupi kekurangan manusia tersebut.
Bukan
pula manusia yang saling merugikan antar sesama seperti yang dikatakan oleh Thomas
Hobbes yang mengatakan bahwa “ Homo Homini Lupus” yang berarti manusia adalah serigala bagi
manusia yang lainnya , hal demikian yang menjadi ciri pembatas antara manusia
dengan makhluk lain, entah itu manusia yang saling membantu ataupun manusia
yang saling membantai.
Ditengah
badai pandemi ini sewaktu waktu bisa saja terjadi fenomena manusia adalah
serigala bagi manusia yang lain seperti yang dikutip oleh Thomas Hobbes, karena
sewaktu waktu mereka akan memangsa sesama, konotasi memangsa dalam hal ini bukan dalam artian melukai secara
fisik,tetapi memangsa dalam artian melakukan perampasan hak atas hak orang
lain, hingga menghadirkan kepanikan.
Kita
bisa lihat ditengah badai pandemi ini, egoisme tiap masyarakat meningkat. Pemborongan
atas alat alat kesehatan seperti masker,hand sanitizer dan Alat Pelindung
Diri(APD) cukup menggambarkan kini betapa egonya masyarakat yang mementingkan
keselamatan diri sendiri dengan cara memborong dan tak memberikan hak hak orang
lain untuk membeli ataupun menggunakannya. Para tenaga medis pun menjadi
kewalahan atas kelangkaan barang tersebut.
hal
demikian yang menyebabkan minimnya persediaan Masker,Hand Sanitizer,Alat
Pelindung Diri(APD) ditengah masyarakat, ketersediaan barang seperti yang disebutkan
dipicu oleh orang orang yang tidak peduli terhadap sesama dan lebih memenangkan
ego didalam situasi seperti ini.
Hadirnya
Covid-19 di Indonesia yang telah mencapai umur 8 bulan ini membuat aktifitas
sosial tiap masyarakat menjadi menurun
hal tersebut dinilai oleh pemerintah sebagai nilai plus dikarenakan dilihat dari kacamata
pemerintah bahwa masyarakat patuh terhadap surat edaran pemerintah yang
mengharuskan untuk melakukan Social Distancing dan berdiam diri dirumah.
Namun
tiap tiap hal positif yang hadir pasti selalu saja ada wujud Non-Eksitensi yang
membarengi kabar positif tersebut, dari adanya hal positif mengenai kepatuhan
untuk melakukan berdiam diri dirumah tidak semata menghadirkan nilai plus saja,
ternyata banyak masyarakat diberbagai kalangan usia merasa jenuh serta nihil
atas imbauan untuk berdiam dirumah.
Aktivitas
yang dilakukan oleh masyarakat cukup bervariatif untuk menghabiskan waktu dirumah aja dengan
harapan waktu cepati berlalu, coronapun berlalu.
Menghabiskan waktu dengan bermain
game online merupakan salah satu
opsi yang terbaik yang
dipilih dari kebanyakan usia, entah
itu para pemuda,anak
kecil ataupun orang
tua, kebanyakan mereka
menghabiskan waktunya untuk bermain game karena mereka beranggapan bahwa
gamelah yang mampu hadir sebagai penawar atas kejenuhan yang
tengah dirasakan dan
untuk mengisi kekosongan waktu ditengah pandemi saat ini, secara tidak sadar
bahwa kita tidak merasakan
ketika kita menggunakan waktu untuk bermain game selama covid ini sebenarnya
banyak waktu yang terbuang sia sia dan pendistribusian waktu menjurus
ke hal yang tidak
memberikan dampak besar terhadap pengembangan diri tiap orang,khususnya para
pemuda.
“Seseorang
tidak kehilangan apa apa bila tidak menanam apa apa”
Cita-cita luhur bangsa Indonesia
yang tertuang di dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi
"mencerdaskan kehidupan bangsa" harus tetap diperjuangkan tanpa melihat pantangan
dan hambatan yang sedang melanda bangsa saaat ini.
Mencerdaskan kehidupan bangsa
adalah rumusan kalimat yang tidak hanya menjadi sebuah cita luhur bangsa yang
kini sudah usang dan perlahan ditinggalkan, tetapi cita cita suci tersebut
belum mencapai final dan
harus tetap
diperjuangkan tanpa melihat adanya hambatan
Yang paling membahayakan disini
adalah ketika para pemuda terlena terhadap imbauan Dirumah Aja, hingga
pada akhirnya menjadi kesempatan bagi para pemuda untuk bermalas malasan dengan
cara diisi dengan hal hal yang tidak
produktif dan tetap membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa adanya sebuah pengembangan
diri.
Pengembangan diri serta
produktifitas dalam diri pemuda harus tetap dipertahankan dengan cara tetap
dilakukan, bilaperlu harus ditingkatkan dengan cara apapun tanpa memperdulikan
adanya covid-19 asalkan sesuai dengan kebijakan mengenai Social Distancing,
bahkan Covid-19 tak boleh dijadikan dalil atas kemalasan yang kini dilakukan
oleh para pemuda
Pemuda memang yang menjadi garda
terdepan atas nasib bangsa ini kedepannya, oleh karena itu tiap pemuda memiliki
tanggung jawab moril yang diemban dalam menjalankan kehidupannya, tetapi untuk
menggerakan pemuda untuk tetap produktif walaupun berada dalam rumah, tidak
cukup atas inisiatif pemuda itu sendiri.
Dibutuhkan sosok yang telah
mendapatkan legitimasi dari masyarakat yaitu instrumen pemerintah, yang dimana
pemerintah bertanggung jawab atas produktifitas pikiran para pemuda.
Dalil corona ataupun pembatasan
aktifitas sosial tidak boleh mejadi alasan bagi pemerintah untuk tidak mau
melakukan usaha untuk merawat pikiran para pemuda, melihat seiring berkembangnya
zaman dengan dibarengi banyaknya temuan teknologi yang kemudian memudahkan
aktivitas sosial sehingga mengurangi keteledoran yang dirasakan manusia
haruslah dimanfaatkan oleh pemerintah, karena majunya peradaban harus dibarengi
dengan majunya pikiran, kita tidak boleh menggunakan perangkat pikiran tahun 1800an
dalam menjalankan roda pemerintahan yang kini serba berteknologi.
Menurut
hemat penulis,disamping pemerintah mengeluarkan kebijakan atas Social
Distancing dan berdiam dirumah saja,perlu dibarengi dengan menghadirkan
program kerja yang kemudian mendukung dan menggerakkan para pemuda untuk tetap
produktif entah itu menghadirkan program kerja yang menarik
masyarakat untuk terlibat walaupun secara virtual (online) contohnya seperti
lomba menulis opini,membuat video dengan tema dirumah aja,Ataupun hal hal yang
dirasa mampu mendorong pemuda untuk tetap produktif.
Para
pemudapun harus berinisiatif untuk tetap mau melakukan hal hal yang produktif
serta harus memiliki kesadaran yang tinggi atas tanggung jawab moril yang
diemban sebagai manifesasi peradaban kedepannya.
Jika
kedua instrumen ini berjalan beriringan seperti kaki dan sandal yang dimana para
pemuda berinisiasi untuk tetap produktif dan tetap melakukan pengembangan diri
seperti membaca,melatih soft skill dan hal hal produktif lainnya, pemerintah yang
memiliki inovasi untuk menghadirkan program kerja yang mendukung atas usaha
dari para pemuda,pastilah covid-19 ini tidak lagi menjadi momok menakutkan.
Karena
para pemuda sibuk mengembangkan diri serta merawat pikiran dengan tetap
mematuhi kebijakan pemerintah untuk social distancing dan berdiam
dirumah aja, hingga pada akhirnya pemuda lebih terfokuskan menyelesaikan
masalah masalah lain.
“Ditengah Corona ini,bukan hanya menjaga jarak yang
mesti diperhatikan,
tetapi juga harus menjaga Pikiran agar
tetap kritis ditengah indonesia yang sedang krisis”
~Afif,13 Juni 2020
Komentar
Posting Komentar