Pendidikan Haruslah Kritis Tak Boleh Miris
“ Seorang terpelajar harus dapat berlaku adil sejak dalam pikiran terutama dalam perbuatan”
~Pramoedya Anata Toer
Nelson mandela pernah mengatakan
bahwa pendidikan merupakan senjata yang paling mematikan didunia,jika diartikan
secara teoritis dalam prespektif persaingan global,bahwa suatu persaingan antar
negara akan hidup bila dilihat dari sektor pendidikannya,suatu negara akan maju
apabila negara tersebut mengembangkan
kedinamisan dalam sektor pendidikannya.karena berbicara mengenai
pendidikan pasti kita akan berbicara mengenai generasi,sosok yang akan menerima
estafet tanggung jawab suatu bangsa nantinya.
nasib generasi penerus bangsa
bergantung pada model sistem pendidikannya seperti
apa,jika sistem pendidikanya adalah sistem yang hanya
menerima pilihan jawaban maka akan sulit generasi tersebut keluar dari kemalasan
dalam mengembangkan inovasi dan kreasi
Biasanya pedagogik kita langsung
menyodorkan opsi jawaban,bahkan disuap tanpa
memberikan ruang ruang pikiran kritis untuk memfilter masuknya ilmu
pengetahuan tersebut Ketika diberikan pertanyaan pasti kita langsung disediakan
opsi jawaban,entah disuruh memilih opsi A,opsi B,C ataupun D, setelah itu tanpa
pikir Panjang biasanya kita langsung memilih jawaban yang disediakan tanpa
meninggalkan jejak pertanyaan seperti kenapa
jawaban A yang benar,kenapa jawaban B,C, dan D salah,apa yang menyebabkannya
salah,kenapa,pikiran semacam itu tidak dijadikan sebuah kebiasaan dalam pemberian
edukasi,padahal edukasi semacam ini tidak merangsang untuk berpikir kritis
karena sudah tersedia pilihan jawaban yang pada akhirnya nanti mengakibatkan
nalar kritis seorang pelajar tidak tajam bahkan akan tumpul
Relasi
antara ilmu pengetahuan dengan metode yang digunakan untuk menyampaikan suatu
ilmu pengetahuan saling berkaitan dengan output yang didapatkan dari seorang
pelajar tersebut,jika ilmu pengetahuan yang disampaikan tergolong berat
misalnya seperti paham paham/ajaran dari para filsuf lalu disampaikan dengan
ringan tanpa melihat lagi siapa lawan bicara kita,baik itu anak SMA atau anak
yang belum paham sekali mengenai filsafat maka akan dirasa sulit untuk dikonsumsi
ilmu pengetahuan tersebut,begitupun sebaliknya jika ilmu pengetahuan yang disampaikan
adalah suatu ilmu yang terbilang ringan tetapi disampaikan dengan cara yang
sulit contohnya dengan menggunakan kalimat atau istilah yang dirasa asing didengar
oleh telinga si lawan bicara kita ini maka akan sulit dikonsumsi juga ilmu
pengetahuan tersebut. Oleh karena itu perlu adanya kesesuaian antara ilmu
pengetahuan dengan metode yang digunakan dalam menyampaikan ilmu pengetahuan
tersebut,serta tingkat pemahaman dari lawan bicara kita itu sejauh mana ,karena
esensi dari edukasi itu sendiri adalah untuk bagaimana pendistribusian ilmu
tersebut tersampaikan dengan baik dan bijak.
Jika kita
meberikan suatu ilmu pengetahuan yang terbilang sulit untuk dipahami tanpa
melihat siapa lawan bicara kita maka sama sekali tidak ada gunanya proses pemberian edukasi tersebut,yang ada hanya
edukasi fiktif yang menghasilkan masturbasi intelektual yang pada akhirnya si pemberi ilmu menyampaikan ilmu tersebut
bukan dengan motif memberikan edukasi tetapi bertujuan untuk mendapatkan sanjungan serta meninggikan
derajat dalam lingkungan sosialnya karena dianggap hebat telah memahami ilmu
ilmu yang dirasa sulit untuk dipahami bagi si lawan bicara tadi.
Pendidikan tidak hanya berbicara
sebatas proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik ke peserta
didik,pendidikan sangatlah luas cakupannya,karena proses pendidikan juga
menentukan proses pembentukan karakter serta pengajaran moral terhadap si
pelajar tersebut
Karena seorang terpelajar tanpa
dibarenginya dengan proses pendidikan karakter dengan baik serta pemberian
moral yang baik pula akan menghasilkan output terpelajar yang pincang
sebelah,dalam proses penerimaan moral pula harus melewati perangkat filterisasi
yaitu harus dipikirkan,apakah doktrin moral itu sesuai dengan kebaikan ataukah
hanya moral yang mengandung feodalisme,karena ukuran moral itu bukan
disuntikkan tetapi dipikirkan
“Mengajar,bukan lagi mengajarkan apa yang
diyakini,melainkan untuk menanam keyakinan keyakinan serta kebodohan kebodohan
yang dipandang berguna untuk mereka yang memerintahkannya”
~Bertand Russel
Seringkali kita menerima doktrin
moral yang sebenarnya mengandung unsur perbudakan karena tidak adanya proses
filterisasi yang dilaluinya,contohnya dalam
lingkungan organisasi,jika kita melakukan sesuatu hal yang menurut
ukuran senior itu tidak baik maka kita akan dicap tidak baik di lingkungan
tersebut,suntikan moral semacam inilah yang berbahaya yang kemudian
menghasilkan generasi yang tunduk pada nilai nilai moral yang dibentuk oleh
lingungan sosial tanpa adanya proses pemikiran terlebih dahulu,sehingga
memenjarakan seorang terpelajar yang pada dasarnya adalah seseorang yang
merdeka dalam berpikir serta bertindak.
Kultur semacam itu sudah menjadi
habituasi sehingga terbawa dalam lingkungan pergaulan organisasi nilai nilai
moral yang disediakan dalam pergaulan organisasi harus dipikirkan secara kritis
jangan sampai nilai nilai moral yang disuntikkan dalam organisasi hanya untuk
sebagai kepentingan individu ataupun kelompok dalam
melancarkan proses feodalisasi.
Pengetahuan adalah modus
eksitensi.dengan modal pengetahuan seseorang akan diangkat derajatnya sedikit
lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sedikit memiliki pengetahuan,kita
bisa melihat dalam realitas yang terjadi bahwa seseorang yang tidak memiliki
ilmu pengetahuan akan berpotensi diwarnai oleh sesorang yang memiliki ilmu pengetahuan
diisitu terjadi proses hegemonisasi antara seseorang yang memiliki ilmu
pengetahuan dengan seseorang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan,sehingga
seseorang tersebut mudah disetir oleh orang yang memiliki ilmu pengetahuan,
apapun yang dikatakan oleh orang yang lebih tau dari dia,secara tidak langsung
nalarnya akan mempercayai apa yang dikatakannya,tanpa adanya proses filterisasi
atau proses pilih dan pilah informasi yang masuk.
Fenomena ini merupakan sebuah
fenomena yang berbahaya karena akan menumbuh kembangkan bibit bibit
perbudakan,oleh karena itu penting rasanya sebagai seorang terpelajar harus
memiliki kekayaan khazanah pengetahuan serta keleluasaan wawasan agar terhidar
dari fenomena tersebut
Ada pepatah kuno yang mengatakan
bahwa jika kita bergaul dengan penjual parfum,maka aroma parfum tersebut akan
terkena pada aroma tubuh kita,dan jika kita bergaul dengan penjual ikan maka aroma
ikan tersebut akan terkena pada aroma tubuh kita,pepatah tersebut menggambarkan
bahwa peran lingkungan juga berpengaruh pada proses pembentukan karakter
tadi,jika lingkungan kita baik maka otomatis kita akan menjadi baik
pula,sebaliknya jika lingkungan kita tidak baik maka akan berdampak pula pada
diri kita sendiri
,jika berbicara dalam sudut pandang
teori,penulis pernah mendengar salah satu teori kritis hubungan internasional
di salah satu senior penulis,teori tersebut mengatakan bahwa manusia memang
dilahirkan pesimis,manusia akan terbentuk apabila lingkungannnya terbentuk
dengan baik pula.artinya lingkungan juga berpengaruh besar dalam proses
pembentukan karakter dari seorang pelajar ,didalam ranah lingkungan sosial juga
berpengaruh dalam proses doktrinasi ilmu pengetahuan dan pengembangan karakter
diri,jika kita memiliki pengaruh yang kuat maka kita akan berpotensi untuk
mewarnai lingkungan kita tersebut,baik berawal dari lingkungan yang baik
menjadi buruk,ataupun sebaliknya,begitupun dengan teori tersebut,jika kita
menampakkan wujud pesimsme kita maka kita akan diwarnai oleh lingkungan.
“
Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda “
~Tan Malaka

Terimakasih sudah berbagi tulisan yg bermanfaat bang 👍
BalasHapusSiap pak ketua.
HapusMasih banyak belajar juga dari Abang