Pendidikan Haruslah Kritis Tak Boleh Miris

 
Oleh :Muhammad Afif 

Seorang terpelajar harus dapat berlaku adil sejak dalam pikiran terutama dalam perbuatan”
~Pramoedya Anata Toer

Nelson mandela pernah mengatakan bahwa pendidikan merupakan senjata yang paling mematikan didunia,jika diartikan secara teoritis dalam prespektif persaingan global,bahwa suatu persaingan antar negara akan hidup bila dilihat dari sektor pendidikannya,suatu negara akan maju apabila negara tersebut mengembangkan  kedinamisan dalam sektor pendidikannya.karena berbicara mengenai pendidikan pasti kita akan berbicara mengenai generasi,sosok yang akan menerima estafet tanggung jawab suatu bangsa nantinya.

nasib generasi penerus bangsa bergantung pada model sistem pendidikannya seperti apa,jika sistem pendidikanya adalah sistem yang hanya menerima pilihan jawaban maka akan sulit generasi tersebut keluar dari kemalasan dalam mengembangkan inovasi dan kreasi  

Biasanya pedagogik kita langsung  menyodorkan opsi jawaban,bahkan disuap tanpa memberikan ruang ruang pikiran kritis untuk memfilter masuknya ilmu pengetahuan tersebut Ketika diberikan pertanyaan pasti kita langsung disediakan opsi jawaban,entah disuruh memilih opsi A,opsi B,C ataupun D, setelah itu tanpa pikir Panjang biasanya kita langsung memilih jawaban yang disediakan tanpa meninggalkan jejak pertanyaan seperti kenapa jawaban A yang benar,kenapa jawaban B,C, dan D salah,apa yang menyebabkannya salah,kenapa,pikiran semacam itu tidak dijadikan sebuah kebiasaan dalam pemberian edukasi,padahal edukasi semacam ini tidak merangsang untuk berpikir kritis karena sudah tersedia pilihan jawaban yang pada akhirnya nanti mengakibatkan nalar kritis seorang pelajar tidak tajam bahkan akan tumpul

Relasi antara ilmu pengetahuan dengan metode yang digunakan untuk menyampaikan suatu ilmu pengetahuan saling berkaitan dengan output yang didapatkan dari seorang pelajar tersebut,jika ilmu pengetahuan yang disampaikan tergolong berat misalnya seperti paham paham/ajaran dari para filsuf lalu disampaikan dengan ringan tanpa melihat lagi siapa lawan bicara kita,baik itu anak SMA atau anak yang belum paham sekali mengenai filsafat maka akan dirasa sulit untuk dikonsumsi ilmu pengetahuan tersebut,begitupun sebaliknya jika ilmu pengetahuan yang disampaikan adalah suatu ilmu yang terbilang ringan tetapi disampaikan dengan cara yang sulit contohnya dengan menggunakan kalimat atau istilah yang dirasa asing didengar oleh telinga si lawan bicara kita ini maka akan sulit dikonsumsi juga ilmu pengetahuan tersebut. Oleh karena itu perlu adanya kesesuaian antara ilmu pengetahuan dengan metode yang digunakan dalam menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut,serta tingkat pemahaman dari lawan bicara kita itu sejauh mana ,karena esensi dari edukasi itu sendiri adalah untuk bagaimana pendistribusian ilmu tersebut tersampaikan dengan baik dan bijak.

Jika kita meberikan suatu ilmu pengetahuan yang terbilang sulit untuk dipahami tanpa melihat siapa lawan bicara kita maka sama sekali tidak ada gunanya proses  pemberian edukasi tersebut,yang ada hanya edukasi fiktif yang menghasilkan masturbasi intelektual yang pada akhirnya  si pemberi ilmu menyampaikan ilmu tersebut bukan dengan motif memberikan edukasi tetapi  bertujuan untuk mendapatkan sanjungan serta meninggikan derajat dalam lingkungan sosialnya karena dianggap hebat telah memahami ilmu ilmu yang dirasa sulit untuk dipahami bagi si lawan bicara tadi.

Pendidikan tidak hanya berbicara sebatas proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik ke peserta didik,pendidikan sangatlah luas cakupannya,karena proses pendidikan juga menentukan proses pembentukan karakter serta pengajaran moral terhadap si pelajar tersebut

Karena seorang terpelajar tanpa dibarenginya dengan proses pendidikan karakter dengan baik serta pemberian moral yang baik pula akan menghasilkan output terpelajar yang pincang sebelah,dalam proses penerimaan moral pula harus melewati perangkat filterisasi yaitu harus dipikirkan,apakah doktrin moral itu sesuai dengan kebaikan ataukah hanya moral yang mengandung feodalisme,karena ukuran moral itu bukan disuntikkan tetapi dipikirkan

 “Mengajar,bukan lagi mengajarkan apa yang diyakini,melainkan untuk menanam keyakinan keyakinan serta kebodohan kebodohan yang dipandang berguna untuk mereka yang memerintahkannya”
  
 ~Bertand Russel

Seringkali kita menerima doktrin moral yang sebenarnya mengandung unsur perbudakan karena tidak adanya proses filterisasi yang dilaluinya,contohnya dalam  lingkungan organisasi,jika kita melakukan sesuatu hal yang menurut ukuran senior itu tidak baik maka kita akan dicap tidak baik di lingkungan tersebut,suntikan moral semacam inilah yang berbahaya yang kemudian menghasilkan generasi yang tunduk pada nilai nilai moral yang dibentuk oleh lingungan sosial tanpa adanya proses pemikiran terlebih dahulu,sehingga memenjarakan seorang terpelajar yang pada dasarnya adalah seseorang yang merdeka dalam berpikir serta bertindak.

Kultur semacam itu sudah menjadi habituasi sehingga terbawa dalam lingkungan pergaulan organisasi nilai nilai moral yang disediakan dalam pergaulan organisasi harus dipikirkan secara kritis jangan sampai nilai nilai moral yang disuntikkan dalam organisasi hanya untuk sebagai kepentingan individu ataupun kelompok dalam melancarkan proses feodalisasi.

Pengetahuan adalah modus eksitensi.dengan modal pengetahuan seseorang akan diangkat derajatnya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sedikit memiliki pengetahuan,kita bisa melihat dalam realitas yang terjadi bahwa seseorang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan akan berpotensi diwarnai  oleh sesorang yang memiliki ilmu pengetahuan diisitu terjadi proses hegemonisasi antara seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dengan seseorang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan,sehingga seseorang tersebut mudah disetir oleh orang yang memiliki ilmu pengetahuan, apapun yang dikatakan oleh orang yang lebih tau dari dia,secara tidak langsung nalarnya akan mempercayai apa yang dikatakannya,tanpa adanya proses filterisasi atau proses pilih dan pilah informasi yang masuk.

Fenomena ini merupakan sebuah fenomena yang berbahaya karena akan menumbuh kembangkan bibit bibit perbudakan,oleh karena itu penting rasanya sebagai seorang terpelajar harus memiliki kekayaan khazanah pengetahuan serta keleluasaan wawasan agar terhidar dari fenomena tersebut

Ada pepatah kuno yang mengatakan bahwa jika kita bergaul dengan penjual parfum,maka aroma parfum tersebut akan terkena pada aroma tubuh kita,dan jika kita bergaul dengan penjual ikan maka aroma ikan tersebut akan terkena pada aroma tubuh kita,pepatah tersebut menggambarkan bahwa peran lingkungan juga berpengaruh pada proses pembentukan karakter tadi,jika lingkungan kita baik maka otomatis kita akan menjadi baik pula,sebaliknya jika lingkungan kita tidak baik maka akan berdampak pula pada diri kita sendiri

,jika berbicara dalam sudut pandang teori,penulis pernah mendengar salah satu teori kritis hubungan internasional di salah satu senior penulis,teori tersebut mengatakan bahwa manusia memang dilahirkan pesimis,manusia akan terbentuk apabila lingkungannnya terbentuk dengan baik pula.artinya lingkungan juga berpengaruh besar dalam proses pembentukan karakter dari seorang pelajar ,didalam ranah lingkungan sosial juga berpengaruh dalam proses doktrinasi ilmu pengetahuan dan pengembangan karakter diri,jika kita memiliki pengaruh yang kuat maka kita akan berpotensi untuk mewarnai lingkungan kita tersebut,baik berawal dari lingkungan yang baik menjadi buruk,ataupun sebaliknya,begitupun dengan teori tersebut,jika kita menampakkan wujud pesimsme kita maka kita akan diwarnai oleh lingkungan.

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda “ 

~Tan Malaka  

Komentar

  1. Terimakasih sudah berbagi tulisan yg bermanfaat bang 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap pak ketua.
      Masih banyak belajar juga dari Abang

      Hapus

Posting Komentar